Kepulauan Rote, juga disebut Kepulauan Roti, adalah sebuah kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia Indonesia. Kepulauan ini merupakan wilayah paling selatan Indonesia.[2] Daerah ini terkenal dengan kekhasan budidaya lontar, wisata alam pantai, musik sasando, dan topi adat Ti'i langga.[3] Kepulauan Rote dengan pulau terbesar, pulau Rote, beserta pulau-pulau kecil di sekitarnya berstatus sebagai kabupaten dengan nama Kabupaten Rote Ndao melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2002. Kepulauan Rote terdiri atas 96 pulau, 6 di antaranya berpenghuni: Pulau Rote dengan luas 97.854 Ha, Pulau Usu di timur laut dengan luas 1.940 Ha, Pulau Nuse dengan luas 566 Ha dan Pulau Ndao dengan luas 863 Ha dan Pulau Do'o di barat dengan luas 192 Ha, Pulau Landu di selatan dengan luas 643 Ha, dan 90 pulau lainnya tidak dihuni manusia.[5] Wilayah ini beriklim kering yang dipengaruhi angin muson dan musim hujan relatif pendek (3-4 bulan). Bagian utara dan selatan berupa pantai dengan dataran rendah, sementara bagian tengah merupakan lembah dan perbukitan.

Beberapa raja Rote yang terekam dalam sejarah adalah raja Tou Dengga Lilok. Moyang Tou Dengga Lilok berasal dari Bula Kay, dengan urutan keturunan: Bula Kay memperanakan Loma Bula, Loma Bula memperanakan Ou Loma, Ou Loma memperanakan Kadau Ou, Kadau Ou memperanakan Kasu Kadau, Kasu Kadau memperanakan Doitama Kasu, Doitama Kasu memperanakan Tou Dengga Lilok.

Tou Dengga Lilok dinobatkan sebagai Raja Baa dan kekuasaannya meliputi Rote Baa pada zaman penjajahan Portugis dan kolonial Belanda.Tou Dengga Lilok memperanakkan Nduk dan Bulakh. Dari keturunan Nduk inilah maka muncul marga-marga suku Ene, diantaranya Panie, Dae Panie, Fola Panie, Foeh, Detaq, dll.

Copyrights © 2021 NTT Lands